Skip to main content

Sedang, Bunga-Bunga Pun Berjatuhan. (8)

Musnah sudah...
Apa-apa yang menjadi satu dari sekian banyak mimpi, kini pupuslah sudah.
Semua yang menjadi kebanggaan, hancurlah sudah.

Aku menyadari dengan sepenuhnya, segala kekurangan dan kesalahan. Pun, kebodohan-kebodohan yang oleh diri ini punyai.

Tetapi, pernahkah engkau sadari, bahwa berapa banyak kenang yang terpatri begitu dalam. Apakah memang sudah benar-benar hilang, itu semua. 
Masihkah ada aku, disana. Masihkah ada hatiku direlung terdalammu?

Kalimat perpisahan nampak jelas sudah, terucap dari hatimu.
Lalu, apalagi yang harus aku lakukan, jika semuanya telah menghilang?

Disini, aku sendiri melamunkanmu.
Ditempat ini, hanya aku satu-satunya yang masih terbayang wajahmu.
Diruangan inilah, tempat segala rasa aku tumpahkan.

Oh, Tuhan...
Betapa asa dan tawa bersamanya, saat ini tinggal duka.
Betapa cinta dan cita bersamanya, kini tinggalah luka.
Betapa rindu yang mengalun do'a, kini telah tiada.

Dan kini, ketika engkau tengah dilanda resah. Hati ini, tak mampu lagi hati membersamai.
Begitu pula saat engkau sedang lelah, nafasku tak dapat lagi membasuhnya.

Sekarang, hanya bait-bait do'a dalam resah, yang bisa aku sampaikan padanya.
"Pergilah, dan temuilah, sandaran hatimu yang sejatinya".

Dan akhirnya....
Biarkanlah disini, aku kembali mengembara, di lautan lepas tanda tanya.

Sedang, bunga-bunga pun berjatuhan. Membersamaiku, yang tengah kalut, akan masa depan.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 17 Januari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...