Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (58)

Apalagi yang harus diupayakan, jika harap hanya berbuah senyap. Ketika penjelasan, sekadar berbalas kediaman. 

Engkau jelas terlampau tahu tentang semua ini. Perihal keseriusanku padamu. Engkau juga terlampau mengerti, akan semua nafas perjuangan selama ini.

Kediamanmu, menyisakan tanda tanya. Apakah engkau memang tengah dilema, atau ada hati lainnya.

Entahlah...
Yang jelas, suhu istimewa Yogya, membersamai nada-nada perpisahan diantara kita. 

Melepas kita, menjadi aku dan kamu, kembali. Tak terbendung lagi. Dan, berserakan ditengah jalan kepulangan.

Oh, baginda. Barangkali, ia bukan milikku. Atau, aku yang bukan miliknya.

Satu hal yang sulit kulupakan, adalah Purwokerto, sebagai temu menyusun kepingan-kepingan harapan.

Disanalah, di kota itu. Kita, pernah bertatap. Disanalah, kita sama-sama berbagi sempat untuk saling berucap.

Namun kini, keteduhan matamu tak lagi sanggup untuk bersandar ditengah teriknya perjalanan.

Senyummu, barangkali sudah bias, tercerabut dari kemurniannya.

Mungkinkah...
Mungkinkah, semua yang sempat menjadi titik tuju bersama, akan menuai kembali nafasnya.

Jarak yang dulunya membentang, tak menjadi soal. Sebab, aku yakin bahwa dirimu menaruh setia didalamnya.

Namun kini, berbeda.
Kini, antara Purwokerto-Yogyakarta, masih tersisa semoga  yang bercampur harap, diujung rindu yang menunggu lelap. 

Wallohu a'lam. 
Sukoharjo, 14 Januari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...