Skip to main content

Ruang Interupsi (4)

Pada setiap "simbol" gerak peradaban, misalnya modern atau post-modern, memiliki "fitrah" akan adanya ruang "kosong" narasi.

Dualitas antara yang "homology" dan "paralogy", mesti mengandung language game-nya masing-masing. Dari yang konsensus maupun disensus.

Hal-hal yang telah sedikit terpapar diatas, merupakan deskripsi yang khas dari pergumulan discourse akademik. Hal itu sah-sah saja, sebagai wujud dari produktifitas norma yang dipegangnya, ialah prinsip keilmiahan.

Namun, diantara "kemegahan" modernitas sejak kisaran abad 19 itu (misalnya), tetap saja akan ada gerak sejarah yang terus ber-dialog (penerimaan dan penolakan).

Pada tataran fakta "implisit", keriuhan dialog itu masing-masing berjalan, berkembang, dan bertumbuh dalam ruang sunyinya masing-masing. Meskipun, akan ada saja yang menggema pada space publik.

Pada akhirnya, seluruh manusia akan tetap bergerak secara dialektis, pada dualitas philosophia kelas "atas" dan kelas "bawah".

Kelas atas yang memburu progresifitas, sedang kelas bawah mengejar stabilitas. Yang prog- dan stab-, tidak lain adalah gerak simultan "bawah sadar" society, yang tak akan pernah mampu dilenyapkan sampai kapanpun.

***Yogyakarta, 19 Februari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...