Skip to main content

Ruang Limitasi (19)

Fokus terhadap diri, itulah tabiat lain dari hewan berakal bernama manusia. Fokus ke diri, bahasa lainnya ke "aku" an, bisa pula dikatakan egois. Walaupun term egois tak selamanya proporsional, untuk disematkan.

Sifat dan sikap ke "aku" an ini, misalnya dipertontonkan dengan saling berbagi konten story wa, ig, dlsb., sebagai bentuk bahwa dirinya perlu, dan terkadang harus merasa dirinya ada.

Dalam permisalan lain misalnya, kondisi saat menunggu traffic light berwarna hijau, manusia yang tengah mengendarai mobil atau motornya, jelas tampak ingin mendahulukan laju kendaraannya.

Kalau dalam tataran makro, dalam hal ini menyangkut kepentingan publik, asumsi dasar ke "aku" an ini kerap masih ditonjolkan, sebagai upaya dirinya untuk di "aku" i. Hal tersebut, jelas amat berbahaya. Sebab, "aku" itu eksplisit lawan dari "publik". Koherenitas teramat batal, jika "aku", telah diam-diam teraktualisasi dalam ruang publik.

Maka, fatwa soal idea kebajikan negara yang pernah dimunculkan oleh Plato, sebenarnya masih relevan, untuk men-counter kebablasan demokrasi akhir-akhir ini. Walaupun tetap saja, manusia akan tetap menyisakan ruang limitasi, antara persepsi dengan delusi.

***Purworejo, 13 Februari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...