Skip to main content

Ruang Limitasi (11)

Dalam sebuah titik keberangkatan, seringkali yang kita lebih perhatikan adalah soal capaian. Terlebih, jika capaian tersebut, bukan hanya diharapkan oleh diri kita sendiri, melainkan banyak orang.

Sadar akan sebuah hal yang ternyata salah, acapkali ditemukan saat kegagalan itu baru saja terjadi. Namun, begitulah hidup. Siapapun tak secara pasti, mampu menduganya.

Tetapi, dalam tiap-tiap rentang jalanan menuju cita-cita, akan selalu ada makna yang tak terduga sebelumnya.

Hal-hal yang tak dapat di duga itulah, yang seharusnya mendorong masing-masing kita, untuk lebih bisa belajar dari orang lain. Membuka selebar-lebarnya ruang dialog, serta lebih bersabar untuk menentukan arah langkah kedepannya.

Ruang limitasi selalu ada. Keberadaannya tak mampu di hilangkan. Maka yang paling memungkinkan untuk dilakukan, adalah bersiap sedia, terhadap semua yang akan terjadi dan yang mungkin akan terjadi.

Syahdan, dengan ini kita dapat berbekal dua kata kunci, sebagai modalitas menapaki ruang limitasi itu. Adalah berfokus, pada yang kita "suka" dan "bisa".

***Solo, 10 Februari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...