Skip to main content

Ruang Limitasi (9)

Barangkali akan lebih bijak, misalnya kita belajar arti kesabaran dengan para musisi. Mereka itu, bergulat dengan waktu demi menghasilkan nada dan lirik yang pas.

Nada, lirik, dan semua hal yang terkait dengannya, terpaksa mereka produksi dengan penuh kepiawaian dalam memahami maksud telinga sang pendengarnya. Pun, dalam ketelitian membaca warna pendengaran mereka sendiri.

Error satu ketukan saja, sangat mereka perhatikan. Denting petikan yang keliru saja, sanggup membuyarkan seisi nada dan liriknya.

Sudah begitu, mereka para musisi juga harus berdialektika. Adalah antara asumsi dasar dan asumsi pasar. Mereka bertarung batin, antara konsep idealitas dan jejak realitas.

Tak cukup sampai disitu, setelah misalnya satu buah lagu mereka ciptakan, sampailah pada fase promo/pengenalan kepada khalayak pendengar. Kalau memakai label, tentu ada kontrak khusus, misal memilih untuk indi, otomatis belantara manajemen resiko lebih menantang.

Ngomongin perkara sabar memang tak ubahnya saat kita belajar berenang. Dimana potensi tenggelam, bukan hanya sekadar wacana, akan tetapi tenggakan air jelas sempat "maregi".

Syahdan, proses kreatif apapun itu, membutuhkan keluasan dan endapan yang tak terhitung. Terlebih lagi, ketahanan untuk terus berjalan diatas ketidakpastian, jelas membutuhkan kuda-kuda yang bukan hanya kokoh, namun juga lentur. Tentu, ini berlaku pada semua aspek.  Sebab, diantara term "antara", mesti menyisakan ruang limitasi.

***Solo, 7 Februari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...