Skip to main content

Ruang Limitasi (26)

Beberapa manusia, memilih untuk menyembunyikan identitasnya. Sebagian yang lain, amat menonjolkannya. Sisi lainnya, tidak ber-identitas "mainstream".

Diantara tiga arus besar interest manusia diatas, masing-masing memiliki muatan "ideologis". 

Identitas yang dipegang oleh manusia, erat sekali dengan simbolitasnya. Ketika simbol itu muncul, automaticly dengan aspek yang melingkarinya. Dari falsafah, sampai semboyannya.

Dalam kesejarahannya, identitas itu semacam "perahu" yang mampu mengantarkan "nahkoda"nya.

Bagi manusia yang cukup "dewasa", perahu identitas itu pasti akan dilepaskan setelah "pulau" society yang di tuju telah sampai.

Bagi manusia yang belum cukup "dewasa", perahu identitasnya nampak kesulitan untuk dilepaskan. Jadi, ia pasti akan merepotkan penduduk pulau society yang ia labuhi. Tak terkecuali juga, hal tersebut akan merepoti dirinya sendiri.

Antara dewasa atau yang belum, akan selalu ada ruang limitasi yang membilur didalamnya. Maka, skema yang paling memungkinkan untuk menuju harmoni semesta, adalah menanggalkan kekakuan identitas secara berkala, tanpa tercerabut dari akar budayanya.

Ketika sudah sedemikian dialektis-integratifnya kedewasaan identitas, maka yang tertinggal pasti keluhuran personalitas. Dengan catatan, semua harus sepakat untuk "tandang-tandhing", dengan yang disonan.

***Yogyakarta, 17 Februari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...