Skip to main content

Ruang Limitasi (20)

Selain sebagai homo religions dan homo sapiens, manusia juga merupakan homo ludens, "makhluk bermain".

Esksitensi bermain manusia sangat beragam dan super dinamis, menyesuaikan tumbuh-kembang kebudayaan setempat. 

Misalnya, permainan masa saya kecil antara lain "panggal", kini bisa kita lihat beralih menjadi "ML". Memberi bukti, betapa transformasi budaya begitu pesat, sejalan dengan berkembangbiaknya teknologi dan informasi.

Ruang "gelap" pergeseran kebudayaan, selalu ada. Misalnya dulu permainan membutuhkan face to face langsung, kini beranjak ke face to face maya. 

Pada rentang "gelap" tersebut, sebenarnya masing-masing memiliki kekhasan interaksi sosial. Dari berhadap-hadapan langsung, ke berhadap-hadapan tidak langsung. 

Ruang limitasi pun, tak dapat dihindarkan dari fitrah manusia sebagai homo ludens itu, adalah need manusia untuk menghibur dirinya sendiri.

Akan tetapi, era demokrasi kekinian kerap menjadi boomerang bagi keakraban berwarga negara. Dari budaya tepo sliro karena didukung interaksi nyata, ke budaya hate speech sampai perundungan, yang didukung alam virtual.

Keberalihan manusia sebagai homo ludens, kadangkala kelewat batas pada ruang publik. Karena "ludens", memiliki makna asli berupa bermain untuk kegembiraan, bukan "main mata" ala koruptor pada era kontemporer ini.

***Kebumen, 14 Februari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...