Skip to main content

Ruang Limitasi (17)

Selain memiliki fitrah curious, manusia juga punya fitrah ketergantungan untuk di perhatikan. Saya menyebutnya, fitrah evaluatif.

Fitrah evaluatif, kalau datangnya dari dalam namanya introspeksi. Jika itu hadirnya dari luar, maka disebut ekstropeksi.

Antrara instrospeksi dan ekstropeksi ini, masing-masing memiliki muatan dan presisinya sendiri-sendiri. 

Dalam konteks yang waktu pelaksanaannya, introspeksi dan ekstropeksi, memungkinkan masing-masing subjek bebas memilih dan mengatur, kapan dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.

Intro- dan ekstro-, masing-masing akan secara alamiah di alami oleh seluruh manusia. Namun, akan lebih baik jika keduanya, bisa berjalan secara terprogram.

Untuk intro-, Baginda telah meng-uswah kan kepada kita untuk ber-istighfar sebelum tidur. Sedang dalam ekstro-, antara Baginda dengan kita, barangkali perbedaannya terletak pada kekhasan kepemilikan "wahyu".

Karena setelah tidak ada manusia pun setelah Baginda yang memiliki kekhasan itu, maka ruang ijtihad bisa kita sebut sebagai ruang ekstro- yang paling reliable untuk terus mengejawantahkan sirothol mustaqim.

Syahdan, dalam rentang intro- dan ekstro-, akan selalu ada ruang limitasi. Hal tersebut, bisa mewujud dalam kegamangan langkah, atau kemantapan yang dinamis, untuk tidak mengatakan fluktuatif.

***Solo, 13 Februari 2020.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...