Skip to main content

Orang Modern Salto Nilai

Naik dan turunnya suasana jiwa, adalah yang lumrah. Ketika naik, tentu semuanya terasa mudah. Namun sebaliknya saat turun, semua menjadi berat adanya.

Kita, acapkali kehilangan "arti" saat semuanya hilang. Kita, kadangkali harus tertatih, bahkan termehek-mehek oleh karena tajamnya dunia. Dan kita, pun sesekali harus merasakan panasnya debu jalanan yang membentang.

Semua itu memang alamiah adanya, tak terkecuali pada mimpi-mimpi yang terpaksa tertunda, oleh karena "kahanan" yang ada.

Titik balik atas keterputusan asa, memang selalu ada. Akan tetapi, itu semua tidaklah hadir dengan sendirinya. Melainkan, diperlukan pencarian yang tidak hanya meletihkan, namun juga melelahkan.

Titik balik itulah, yang oleh umumnya orang tak disadari muncul oleh sebab adanya cahaya. 

Orang yang telah mendapatkan "cahaya", akan dapat meningkat self esteem-nya. Terlebih, bagi mereka, orang-orang yang berada pada jalur-Nya.

Namun, berbeda halnya pada mereka, yang memilih untuk membelakangi-Nya. Padahal sesungguhnya, ia tengah berbohong pada takdirnya sendiri. 

Mirisnya, orang modern lebih nyaman, dengan pilihannya itu. Itulah free will palsu, yang mereka bangga-banggakan setiap saat.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 9 Januari 2020.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...