Skip to main content

Ruang Limitasi (2)

Tiba-tiba, Kartono berseloroh "aman mas?". Sambil usap-usap rambut lusuh saya menimpalinya, "aman terkendala, wkwk".

Kata "aman", begitu monumental bagi Kartono, dan sebagian lingkar terdekatnya. Hampir setiap prolog perbincangan, selalu saja kata tersebut menjadi semacam ritual wajib.

Saya sendiri, tidak terlalu paham kesejarahan kata tersebut ia mulai. Motif dan puncak apa yang sejatinya ia ingini pun, saya tidak mengerti. Semacam ritual wajib itu, ia sisipi dengan ciprat senyum ala rakyat pinggiran.

Sebegitunya rentang jalan itu menuai momentum kelakar kegembiraan, yang menjadi "jimat" titik berangkat percakapan.

Term "aman" ini, memang cukup simpel dan mungkin terkesan ringan saja. Namun, ternyata tidak se simpel dan se ringan itu. Sebab "aman" ini, menuai resonansi harmonika yang reliable, terutama bagi circle milik Kartono, sebagai perwakilan dari percakapan publik kelas bawah.

Jika kita melihat realitas tersebut dengan kaca mata interaksionalisme simbolik, maka akan ditemui simbol beserta substansi dibalik "aman" diatas.

Simbol, oleh Kartono digunakan sebagai pendahuluan public discourse, dengan style yang khas. Di sisi lainnya, "aman" ini menjadi satu dari sekian banyak titik klimaks perjalanan kemanusiaan dalam kesejarahannya.

Namun, untuk sampai pada meta-makna dari "aman", seminimal-minimalnya kita perlu siap sedia untuk tidak menjadi bebal, akan ruang limitasi pada tiap-tiap zaman wal makan.

***Solo, 5 Februari 2020.



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...