Skip to main content

Initial Noting: Waspada Orientasi.

Seandainya waktu bisa di jeda, barangkali manusia akan menemui evaluasinya sendiri. Sayangya, sifat dan sikap waktu tidaklah demikian.

Ditengah era yang serba materialistik ini, dalam arti arus besarnya. Tidaklah mudah untuk menaruh manajerial yang paling kondusif, apalagi sistematika yang beradab. Bukan berarti tidak ada yang kondusif dan beradab, hanya saja, sekali lagi arus utama kita bukanlah itu.

Era yang oleh saintis sufistik dianggap "perang dunia ke-3", menjadikan kebringasan perut diposisikan sebagai yang utama. Lawan dari sifat dan sikap humanis, dalam pengertian praksis.

Pertentangan-pertentangan memang selalu ada, namun baik dalam makna fisik maupun psikis, dalam tribun sosiologis maupun antropologis.

Pertentangan dapat menarik konklusi, namun juga mampu mendorong distorsi yang baru sama sekali. Sedang, manusia yang "tulus", akan menuai initial noting: waspada orientasi.

Kita yang minim pengetahuan tentang masa depan, hendaknya saling "iba" satu sama lainnya. Dengan catatan, bukan dalam ruang dan dimensi yang eksploitatif, kebalikan dari kolaboratif.

"Perang dunia ke-3" ini, menandai begitu banyak clash. Itu sebenarnya alamiah saja, untuk tidak mengatakan setting-an dari elite konspirator.

Namun, dari itu semua (baca: perang dunia ke-3), titik maksimalitas yang dapat kita tempuh, adalah siaga dan waspada untuk menjaga "keamanan batin", dari guyuran deras orientasi materialistik.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 24 November 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...