Skip to main content

Rhapsody Senjakala (2)

Jalanan Solo-Yogya, masih cukup menyita berpuluh perhatian. Kali ini, warna langit tak seperti biasanya. Walaupun, rhapsody senjakala terus-menerus menyusun ritmenya. Sebuah ritme, perihal temu yang terkatung-katung angin dan reruntuhan dedaunan.

Rhapsody senjakala yang tak seindah biasanya, menumbuhkan citra yang cukup membius seisi dada. Apalagi, wajahmu hari ini, masih saja tak berbinar seperti waktu-waktu sebelumnya.

Barangkali, akan lebih baik, jika apa yang kita sebut sebagai keinginan, untuk sementara ini disimpan dalam-dalam. Bukan dalam arti disimpan begitu saja, akan tetapi diolah dengan semestinya.

Olahan tentang keingingan, menandai ada yang perlu di proses. Dalam hal ini di pilah-pilih, mana yang seharusnya dan mana yang tidak semestinya.

Sorot matamu yang membuncah, tak lagi mampu menepis segala gundah. Hanya saja, rintik gerimis yang terlewati tadi, cukup mendinginkan jiwa dan raga yang perlahan terbunuh sepi.

Engkau dengan jelas paham, tentang siklus yang kerap membunuh perlahan. Apalagi, warna langit kali ini mendung, menciprat hati yang tengah dirundung kepedihan mendalam.

Akan tetapi, hanya satu dari sekian keindahan yang mampu menenangkan. Adalah wajahmu, yang selalu menyinari dikala gelap membersamai.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 25 November 2019.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...