Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (24)

Angin di Surakarta ini, memang kerap ngaseng glewean. Ada tetes hujan, padahal tidak ada mendung sebelumnya. Wajahmu kembali hadir, sesaat setelah singkap wajah gadis itu, agaknya sekilas sama dengan wajahmu.

Seharusnya, kau tak lagi hadir disini, maksudku tidak hadir didalam arena benak ini. Sebab, dirimu telah memutus harapan yang dulu pernah ada. Memutus berjuta cita dan cinta, yang pernah aku semai dan sematkan.

Aku yang memang telah terlambat hadir, terpaksa menerima keputusanmu yang sepihak itu. Aku yang memang terlambat datang, sekali lagi dengan sangat terpaksa menerima apa adanya, semua hal yang menjadi putusanmu itu.

Kau dengannya saat ini, bukan denganku. Kau dengan sejuta cita bersamanya, sedang aku tersungkur jatuh membersamai perihnya debu jalanan.

Begitu mudahnya engkau membohongi rasa, begitu ringannya engkau memutus tali yang pernah kita sama-sama ikat. 

Wajahmu yang teduh, tak lagi mampu menjadi tempatku menyemai harapan. Bola matamu yang bening, tak lagi sanggup aku puja. Dan, anggunnya sikapmu, tak lagi hangat, se-hangat temu yang pernah kau pinta padaku.

Sungguh malang angin malam ini. Seolah menebar beling-beling yang akan melukai se-isi jiwa. 

Pada akhirnya, aku hanya akan mampu, menatap indahmu, dari bagian tergelap dalam hidupku.

Oh..
Angin di Surakarta, semoga malam ini juga, adalah malam yang menguatkanku, untuk mampu melepas bayangnya, dengan sepenuhnya.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 14 November 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...