Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (19)

Terdapat range waktu yang cukup menyita perhatian, adalah semacam kegenitanmu yang menggairahkan. Diamu itu keindahan senja, sedang senyumu adalah candu. Apalagi sapaanmu, itu seperti nada-nada kemesraan yang menghanyutkan.

Barangkali, bunga ditepian jalanan itu, akan kuncup dan sekejap layu, oleh karena parasmu yang menggertak estetis. Mungkin pula, angin yang membelai dedauan seketika berhenti meliuk-liuk, oleh sebab anggunmu yang mempesona.

Dan, seolah-olah angin di Surakarta lambat-laun berhenti sejenak, untuk menatap dalam senyap, pesona lukisan Tuhan, yang tergambar di wajah manjamu.

Sampai-sampai, nalar yang semula sehat, tiba-tiba lumpuh dan terkapar kaku, oleh tatapan matamu yang bak berlian jatuh. 

Layaknya hujan yang membasahi tetumbuhan taman surga. Layaknya pula, pejam yang imajinatif-reflektif, membawa lamunan pada permenungan mendalam.

Pipimu kemerahan, sekilas mawar yang jatuh berguguran. Dan, tentunya aku rela memungut satu persatu kelopaknya. 

Alunan musik disco, menjadi stimulan pesta paling bahagia, terlebih dalam dada yang sesak oleh derita.

Oh..
Angin di Surakarta, jelas dan gamblang, sangat amat mencemburui setiap hembus nafasnya.

Dan sialnya, yang paling aku tunggu adalah, pertemuan denganmu. Karena tempat paling nyaman di Bumi ini adalah "aku dan kamu berhadapan".

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 8 November 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...