Skip to main content

Sedang, Bunga-Bunga Pun Berjatuhan. (3)


Pelupuk matamu memancar sampai kesini, tepat ditempat dimana aku berpijak. Masih seperti sebelum-sebelumnya, wangimu tercium bak bunga ditepi kebun. Semerbak dan memekak, sampai dahiku meneteskan keringat. Pertanda gejolak jiwa yang terengah-engah, lesu menatap liku jalan yang masih jauh.

Serpihan-serpihan kisah, menyatu dalam kepala dan dada. Menyita concern yang tidak seharusnya, memberi sinyalemen bahwa "ini harus berakhir". Maksudku, mengakhiri dinamika dari sekian puluh hati yang mengintip temu.

Bertahan dan mempertahankan, masih pada posisi yang lebih tinggi, dari pada mendapatkan. Hari ini harus dirubah-putarbalikkan, menjadi core bertahan. 

Kelelahan oleh karena jalanan terjal asmara, perlu disudahi dan diistirahatkan. Apabila memang sudah ada didepan mata, orang yang siap menjadi tambatan hati. Dan, disitulah jalanan tempuh-jarak baru, dimulai. Untuk sama-sama meramu dengan sebaik mungkin, apa-apa yang perlu ditambah dan dikurang.

Bukankah ramuan yang nikmat, adalah ramuan rindu yang (kita) masak bersama?

Bukankah cita rasa yang lezat itu, adalah cinta dan kasih yang membaur dalam mangkuk rumah tangga?

Bukankah angin di Surakarta, adalah bagian dari kelanjutan cerita (kita), yang membalut luka dan bahagia?

Aku katakan sekali lagi, padamu. Bahwa dari irama angin di Surakarta ini, aku akan menjemputmu di ruang tamu, bersama keluargaku.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 1 November 2019.





Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Menari Bersama Sigmund Freud

  Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, dengan rahmat dan karunia-Nya buku Menari Bersama Sigmund Freud, dapat penulis susun dan sajikan ke hadapan pembaca sekalian. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus terpanjat kepada Rasulullah Muhammad SAW, mudah-mudahan kita semua dapat konsisten belajar dan meneladaninya. Selamat datang dalam perjalanan sastra psikologi yang unik dan mendalam, yang dituangkan dalam buku berjudul "Menari Bersama Sigmund Freud". Dalam karya ini,  Rendi Brutu bersama sejumlah penulis hebat mengajak pembaca meresapi ke dalam labirin kompleks jiwa manusia, mengeksplorasi alam bawah sadar, dan mengurai konflik psikologis yang menyertainya. Buku ini menjadi wadah bagi ekspresi batin para penulis, masing-masing menggali tema yang mendalam dan memaparkan keping-keping kehidupan psikologis. Kita akan disuguhkan oleh kumpulan puisi yang memukau, setiap baitnya seperti jendela yang membuka pandangan pada dunia tak terlihat di dalam diri kita. Berangkat ...