Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (13)


Berjibun titik-titik jiwa, berkumpul dalam satu sudut paling menderita. Kali ini wajahmu, yang masih menyimpan sejuta tanya. Semacam menutup mata dan telinga, dari rentannya angin di Surakarta. 

Ketidakberdayaan batin, akan goresan semilir angin senja, seolah menambah derita yang mencerca. 

Tak sengaja, waktu itu diriku terkecoh, akan senyum yang terlempar dalam dekapan rintihan yanh melara.

Inikah yang kita sebut sebagai dilema? atau hanya soal kebimbangan yang sedang menjadi uji coba? Entahlah, barangkali hanyalah singgungan rasa, yang pernah ada.

Runtuh tak beralasan, hancur tak berkesudahan. Katamu, belum mampu membuka hati yang pernah tersulut kecewa. 

Namun, adakah jawab yang mampu terungkap, ditengah segala problema yang terkecap getirnya satire.

Terimakasih aku ucapkan, padamu yang telah memadu kasih. Walaupun hanya, sebatas berbelas kasih. 

Sekali lagi, (kita) masih terhempas kaku, dalam sentuhan lugu angin di Surakarta. Dan, tanda petik yang pernah engkau "pertanyakan", menjadi stimulan yang ter-respon bloon.

Walaupun begitu, segala pertanyaan yang sempat menyita, akan ada sebuah penyelesaian dan peleraian, akan arti sebuah cinta, dan rindu yang menyesakkan dada.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 3 November 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...