Skip to main content

Manusia yang Manusia (1)

Seduhan kopi hitam, sedikit sentuhan susu, menjadi awal dari waktu untuk hari ini. Sebuah hari, yang harapannya menjadi titik balik, guna menjalankan hidup ini dengan yang seharusnya. 

Hidup yang seharusnya, tentu saja memiliki sisi kebalikannya, ialah senyatanya. Memang hidup dalam zona seharusnya, bukanlah sesuatu yang ringan. Perlu tujuan dan arah yang jelas, terlebih dibutuhkan kuda-kuda yang kokoh, agar tidak gampang roboh.

Hidup yang seharusnya, itulah perjuangan sepanjang sejarah kemanusiaan. Setiap waktunya, manusia tidak akan terlepas dari perkelahian akal, dan tidak akan lepas pula dari yang namanya percekcokkan hati. Dua hal tersebut, melingkar pada zone “seharusnya” dan “senyatanya”.

Waktu yang tak mampu sedetikpun di pause, apalagi dihentikan, memiliki daya rekam history, maupun daya menembus imaji, yang kesemuanya terrangkum dalam benak. Dari sana, manusia mampu memikirkan tentang yang “sudah”, sekaligus perihal yang “akan”. Manusia pada umumnya, mengenalnya dengan term, “masa lalu dan masa depan”.

Yang seharusnya, adalah harapan. Sedang yang senyatanya, merupakan kenyataan. Sebenarnya, kedua hal itu memiliki kesamaan, yaitu sama-sama akan tersimpan dalam ingatan dan pengalaman. Akan tetapi, manusia oleh alam, diberikan arahan untuk bersikap dan berlaku sebagaimana yang “seharusnya”. Itulah tantangan dan ujiannya.

Saat memperhatikan gejala-gejala sosial pada lingkungan sekitar, saya menemui berbagai irisan activity yang beragam, namun tetap integral satu sama lainnya. Irisan itu, terdapat pada peran dan fungsi. Ada yang berperan sebagai pelayan, pun ada yang berfungsi menjadi penerima. Ada yang berperan menjadi produsen, pn juga ada yang berfungsi sebagai konsumen, dlsb., yang jelas, kesemuanya itu mempunyai keragaman dan keintegralan.

Menyadari tentang keragaman dan keintegralan pada gejala sosial, memberikan semacam insigt dalam benak, bahwa akan sangat lucu ketika dalam kesejarahan kemanusiaan, terdapat disonansi. Walaupun, sampel disonansi itu dapat kita jumpai dimana-mana. Itulah salah satu asumsi dari pola pikir dan praksis pikir yang “senyatanya”. Namun kebalikannya, adalah asumsi dari pola pikir dan praksis pikir gejala sosial harmoni, itulah “seharusnya”.

Perkelahian dan percekcokkan antara yang “seharusnya” dan “senyatanya” inilah, yang membuat tumbuh-kembang peradaban menjadi dinamis, dalam artian terus menerus menaruh sisi perubahan demi perubahan. Baik itu kearah yang dianggap baik, maupun perubahan yang dianggap buruk. Anggapan demi anggapan diatas, adalah wujud nyata dari proses mental yang dinamakan persepsi. Itu juga merupakan bagian dari challenge, dari pola pikir yang “seharusnya”. Dimana, semua manusia memiliki daya untuk menghadirkan persepsi, dengan setara. Dalam arti, menyesuaikan isi jiwanya (akal dan hati) masing-masing, melalui perantara pengalaman yang telah dilaluinya, maupun penalaran rasionalnya.

Sebagai penutup sementara dalam sekelumit narasi ini, agaknya sebagai manusia yang disebut oleh Aristoteles sebagai  “hewan berakal”, sudah seharusnya manusia bersikap dan bertindak yang “seharusnya”, dalam waktu dan ruangnya masing-masing. Kalau memang manusia ini, masih mau untuk diberi label manusia.

Menjadi manusia yang manusia, artinya harus melakukan yang “seharusnya”. Yang seharusnya ini, tentu memiliki background-nya masing-masing. Dalam hal ini, bisa background agama (akhlaq), maupun background manusia (moral). Semua di compatible-kan, dengan kondisi, situasi, serta konteksnya.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita (manusia) akan lebih mempertingkan yang “senyatanya”, atau yang “seharusnya?”

Jawabannya, tentu ada dalam hati dan akal kita (manusia), masing-masing. Apabila sudah memiliki jawabannya, langkah selanjutnya ialah menyiapkan “kuda-kuda” yang paling reliable. Seba, kuda-kuda lah, yang akan paling determinan, dalam menapaki jejak dan langkah, menjadi yang “seharusnya” atau “senyatanya”. itulah, manusia yang manusia (1).

Wallohu a’lam.
Sukoharjo, 13 November 2019.

Comments