Skip to main content

Initial Noting: Konotasi Perubahan.


Apa yang terlihat, dan apa yang terdengar, belum tentu itu yang terjadi. Maka tidak heran, kalau Agama memberi sinyalamen agar kita menaruh "tabayun", dalam tiap-tiap peristiwa.

Tabayun tersebut, menandai satu dari sekian peristiwa yang membutuhkan clarity. Supaya, bersih dan murni kegelapan yang mendera fenomena.

Dari sikap tabayun itu, dapat diperoleh momentum untuk mengambil jeda, terlebih dalam konteks ruang dan waktu yang ada.

Ketidakabadian dunia dan seisinya, pun menempatkan secara absolut, tentang makna sejati perubahan. 

Perubahan yang berangkat dari kata "ubah", memiliki definisi yang meluas. Dalam arti, selalu mengikuti arus situasi dan kondisi.

Pun, perubahan tersebut, menyingkap fakta yang denotatif sekaligus kenotatif. Terkadang primer, acapkali juga sekunder.

Ketepatan sikap manusia terhadap presisi primer dan sekunder, akan berimplikasi pada nada yang menyejukkan jiwa dan raga.

Akan berbeda, jika yang primer di sekunderkan, sedang yang sekunder di primerkan.

Disitulah, letak siap dan siaga, atas benturan kecil maupun besar, pada gejala psikis kita. Apalagi, ditengah uncertainty kehidupan mutakhir ini, sangat amat diperlukan.

Hendaknya, yang konotasi lekatkan pada kata perubahan, menjadi satu dari sekian juta perhatian. Utamanya, pada ambang sadar kita, dalam menapaki tiap-tiap initial noting realitas, yang kerapkali ganas dan bernas.

Namun, apakah siang dan malam itu, adalah hal yang berlainan? Atau, justru malah lebih manunggal, ketimbang angka satu?

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 23 November 2019.







Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...