Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (17)


Selalu ada sisi ciamik, di sudut-sudut peradaban Surakarta. Tak akan sedetikpun, mata dan telinga tertutup, sebagai sarana menyalurkan makna, ke dalam kepala dan dada.

Anak kecil ada dihadapan, seolah-olah mengungkapkan narasi gembira dengan sepenuh ketulusan. Tawa dan canda, dengan jelas meresap ke seluk-beluk batin yang tengah kalut.

Tumpukan-tumpukan tugas Universitas, memang kerap nggelani ati. Akan tetapi hidup harus terus berjalan, amargi kahanan kebutuhan. Isuk, awan, wengi, sudah menjadi rutinitas berkelahi dengan realitas.

Nyesek tentu semacam menu harian, namun aroma kegembiraan jelas mewarnai, serta berkelindan dengan peran dan tugas harian. 

Surakarta memang seksi, bukan sebagai bahasa tubuh, namun sebagai pelipur hati yang luluh, oleh karena sorot matamu yang men-senja.

Iya, matamu men-senja. Sebegitunya, sampai titik fokus terkadang terkelabuhi menjadi bui. 

Oooh, angin Surakarta...
Betapa baiknya dikau, yang sangat rajin membelai kusut wajahku yang lelah dan lusuh.

Maka, kalau boleh jujur, lebih baik tetaplah untuk menatap, apabila berkedip akan membuat batinmu terselip. 

Sungguh, alunan semilirmu, membuat rongga dada memaksaku untuk merindu.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 5 November 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...