Skip to main content

Tenang! Ketua RT Kita, Masih Nomal.

Mendapat kepercayaan sebagai ketua RT, bukanlah tanggung jawab yang mudah untuk diemban. Apalagi, perkara yang diurus itu beraneka-ragam jenis dan spesifikasinya. Heterogenitas yang tak mungkin dapat dihindari, membuat uncertainty semakin menjadi-jadi.

Perkara yang mainstream belum usai digarap, sudah bermunculan perkara yang anti mainstream. Terkadang hal-hal yang mainstream saja dapat membuat pusing 8 keliling, apalagi yang anti mainstream, sesekali benar-benar ngrusak tatanan ati.

Ketua RT adalah panglima seluruh program kebijakan, jika khilaf kerap kali pula menjadi biang keladi kerusuhan. Tugas utamanya jelas, ialah mengamankan dan menyamankan satu sama lainnya.

Ditengah krisis stagnasi ide, ketua RT kita, terkadang memilih untuk ber-meditasi sejenak. Menepikan diri dari keramaian, untuk meminta wangsit kepada ilahi. Meminta petunjuk kepada semesta, perihal apa dan bagaimana keberlanjutan sikap dan laku yang terbaik untuk masyarakat yang dipimpinnya.

Namun kali ini, upaya meditasi sang ketua RT terganggu, sebab ada satu dari kejadian yang pernah ia takuti, adalah menyangkut problem "amoral", yang dilakukan oleh salah dua masyarakatnya.

Problem amoral jelas merupakan problem kunci. Semacam titik kulminasi dari seluruh problem yang ada. Kalau sekadar stagnasi ide, itu tidaklah sulit, tinggal mengadakan discourse cilik-cilikan saja, itu sudah mampu menuai kebaruan narasi.

Yang kita sebut sebagai problem kunci diatas, terkadang tidak mampu di handel dengan mekanisme organisasi. Pun, kerap kesulitan untuk diredam menggunakan approach kekeluargaan. Sebab, morality itu menyangkut yang imanen dan transdenden, juga cultural bawaannya.

Kabar baiknya, ketua RT kita, saat ini tengah berusaha mencari resep paling mujarab untuk soal morality diatas. Ia masih terus mencari formula yang paling filosofis, dan humanis.

Yang paling njaremi ati, problem morality diatas, lebih sering "terlakukan" oleh mereka yang punya pengalaman, tentang seluk-beluk laku yang ia bidangi. Sedang ketua RT kita, minim pengalaman akan lelaku bidang itu. 

Tetapi tenang sajalah, toh empirisme tak melulu menang melawan rasionalisme. Jadi, perangkat literasi kausalitas yang dimiliki ketua RT kita, cukup bisa reliable, untuk melerai problem, seminimal-minimalnya, upaya logic untuk menghadirkan perlindungan.

Karena yang paling berharga dari itu semua, ketua RT kita punya cinta yang melampaui, yang semata-mata ia hadirkan untuk terjaganya kondusifitas arena belajar bagi masyarakatnya.

Kita patut bersyukur, bahwa ketua RT kita itu, masih punya nafas naluri yang normal. Tidak seperti, beberapa manusia yang ada disekitarnya.

Wallohu a'lam.
Sukoharjo, 26 November 2019.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...