Skip to main content

Apa Ada Angin di Surakarta (16)


Pagi yang cerah di Surakarta, masih sempat-sempatnya merindui hujan di bulan november ini. Berratus-ratus wajah, berpapas kesana-kemari, pertanda kehidupan dengan segala aktivitasnya tengah berjalan.

Disini, dipinggiran kampus sebelas maret, aku duduk sembari menikmati kopi. Namun, tidak seperti biasanya. Kali ini, yang aku nantikan hadir, bukan hanya parasmu.

Parasmu memang bak taman bunga, yang memiliki berribu keindahan didalamnya. Akan tetapi, keindahannya malah justru kerap memperdayakan jiwa dalam larut. Parasmu memang candu, dan aku adalah salah seorang yang sesekali sakau oleh karena itu.

Berteman kretek berbungkus merah, serts korek gas berwarna merah, menjadi semacam trigger tersendiri, bahwa parasmu bukan hanya untuk dinikmati adanya. 

Angin pagi di Surakarta ini, lambat-laun menyita perhatian, sekaligus mencuri-curi kesempatan, tentang prioritas terhadap fokus pilihan.

Sungguh, ditengah berbagai ragam aktifitas, tetap saja parasmu adalah satu-satunya alasan perjuangan. Dan, aktifitas ragamnya itu, hanyalah sekadar pemanis buatan, untuk menahan sesaknya rindu yang membuncah.

Nyatanya, angin di Surakarta ini, bukan hanya unik, namun juga eksotik. Sebab, bukan lagi sebagai penyambung nafas an sich. Tapi, sebuah estetika yang mengantarkan diri ini, pada nada-nada cita dan cinta.

Wallohu a'lam.
Surakarta, 5 November 2019.

Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...