Skip to main content

Demo Mahasiwa, Hanya Onani Belaka?

Filsuf muslim kenamaan India (Pakistan), Muhammad Iqbal, memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa hakikat manusia itu bisa diketahui berdasarkan QS. Toha: 122 (manusia merupakan pilihan Tuhan), QS. Al-Baqoroh: 30 (manusia merupakan wakil Tuhan di Bumi untuk menjalankan tugas), QS. Al-Ahzab: 72 (manusia mengemban amanah mengelola Bumi) dan QS. Ar-Ro'du: 11 (manusia merupakan partner Tuhan dalam perubahan).

Dari penjelasan yang diberikan Iqbal tadi, maka seminimal-minimalnya, kita mampu menyadari, bahwa secara substansial kita (manusia), hidup memiliki maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan inilah yang menjadi peta petunjuk jalan. 

Iqbal kemudian menerangkan pula, bahwa hidup ini tidak bersifat statis (tetap), melainkan dinamis (berubah). Dalam arti fisik, maupun non fisik. Baik itu yang nampak, maupun yang tak nampak. Entah itu yang disadari, maupun yang tak disadari. Dari hal tersebutlah, manusia belajar. Belajar memahami alam semesta, sampai dirinya sendiri.

Kedinamisan yang dimiliki oleh manusia ini, selalu memungkinkan adanya naik-turun, kanan-kiri, atas-bawah, tinggi-rendah, pria-wanita, barat-timur, dalam hal apapun itu. Bisa menyangkut yang makro, mezo, sampai mikro. Baik dalam wilayah gedung pemerintahan, pasar, pabrik, mall, warung, sampai yang paling privat, ialah rumah.

Pembelajaran dari Iqbal, yang paling monumental bagi saya adalah, ia mengutip Syekh Abdul Qudus, yang mengomentari tentang, perjalanan mi'raj Nabi SAW, ketika bertemu dengan Tuhan. Cita-cita seluruh manusia adalah perjumpaan dengan Tuhan, namun Nabi SAW tidak kemudian larut dalam cita-cita tersebut. Beliau memilih untuk kembali ke Bumi, dalam rangka menyatalaksanakan tugas untuk mewujudnyatakan keadilan. 

Maka muncullah 2 (dua) term ialah kesadaran mistik dan kesadaran profetik. Kesadaran mistik mengilustrasikan individualitas (nikmat dengan dirinya sendiri), sedangkan kesadaran profetik mengilustrasikan kolektifitas (upaya untuk ambil bagian atas perwujudan keadilan sosial).

Inilah yang kemudian (khusnudzon saya), mampu diekpresikan oleh jutaan mahasiswa dari berbagai belahan Indonesia. Mereka memilih ber-kesadaran profetik (prophetic). 

Mereka bisa saja memilih untuk apatis terhadap realitas sosial-politik. Sangat mungkin untuk bersikap acuh kepada penguasa yang mereka anggap lalim. Akan tetapi, mereka memilih untuk meninggalkan jam kuliah, menanggalkan kelas-kelas di kampus, dan kemudian ber-aksi membuat parlemen jalanan.

Mereka jelas-jelas rela menahan teriknya matahari, dengan ikhlas berjalan berkilo-kilo meter, berteriak-teriak oratif ganas khas anak muda, menyanyikan lagu-lagu perjuangan mahasiswa, menyisihkan uang jajan untuk membeli bensin, dlsb., semata-mata untuk menjemput perjumpaan isu bersama, dengan kawan-kawan seperjuangannya, yang jelas berangkat dari berbagai latar struktur bio-sosio-psikogis. Dan, yang tidak kalah penting, mereka kerap begadang untuk melakukan kajian-kajian, sampai kemudian mampu memunculkan press rilis aksi.

Tidak bermaksud berlebihan, hanya saja, apabila tidak ada aksi turun jalan jutaan mahasiswa, maka apa jadinya Indonesia? Plus-minus, sampai pro-kontra aksi tersebut tetaplah ada, namun apresiasi menurut saya wajib dihadirkan.

Sedikit memberikan respon terhadap gencarnya media mainstream dan media sosial, khususnya yang beritanya dibanjiri oleh aksi mahasiswa, bahwa kita perlu ingat "proporsi tugas", terlebih dalam lingkungan makro. Kalau semuanya aksi dari luar, maka tidaklah seefektif apabila ada yang dari luar dan ada yang dari dalam. Itu kalau memang mau serius menuntaskan problema-problema. Maka kemudian, wajib di camkan oleh kita, bahwa penyakit dari "dalam" itu, jauh lebih berbahaya! 

Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di berbagai kota, harapannya bukan onani belaka. Dalam arti hanya "sprin", bukan "maraton". Semoga tidak hanya "memetik buah", namun "menamam benih". Juga mudah-mudahan kita dan mereka, tetap dalam bingkai kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnasi, ta'muruna bil ma'rufi, wa tan hawna 'anil munkar, wa tu'mimuna billah.

Wallohu a'lam.
Surakarta, 25 September 2019.



Comments

Popular posts from this blog

Aku tak pernah benar-benar memilih

Aku tak pernah benar-benar memilih, Aku hanya mendengar panggilan itu, Dari jauh, dari waktu yang tak kukenal, Suara yang berbisik di antara sorak dan nyanyian. Merah menyala, seperti jantungku berdegup, Putih sebersih harapan yang tak pernah padam, Di bawah langit Indonesja, aku berdiri, Bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian. Aku terkadang bertanya mengapa, Mengapa tiap denting waktu, Selalu ada namamu di dalamnya, Selalu ada warnamu di setiap cerita. Arsenal, Bukan aku yang memilihmu, Kamulah yang memanggilku, Ke rumah yang tak pernah sepi, Ke cinta yang tak pernah mati. Aku tahu, dalam setiap jatuh dan luka, Ada alasan untuk tetap percaya, Karena bukan hasil yang membuatku tinggal, Tapi karena aku telah dipilih, Oleh meriam yang abadi.

Oase Utopia (2)

  Oase masih tersembunyi, Dalam tiap bait ini. Dunia berubah warna, menghamparkan keindahan yang terusir jauh.   Ada di mana ia, dalam waktu yang bagaimana. Apakah rasanya, kapan terjadinya. Sejumput utopia, kehilangan dirinya. Memangku prasangka, dipendam di sana. Keresahan tetap memadat, Membawa ragu tersusun rapi. Hati siapa direla, Sekadar menemani ditepi bunga. -Purwokerto, 14 Juli 2023-

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir

Terkadang hidup menuntutmu bekerja sebelum sempat berpikir.  Kalimat itu bukan keluhan individu, melainkan potret sebuah zaman. Suatu kondisi ketika keberadaan yang diukur terutama dari kegunaannya, dan kehidupan yang diukur dari seberapa lancar roda sosial dapat terus berputar. Dalam tatanan seperti ini, berhenti berpikir tidak dianggap perlu, melainkan mengganggu. Masyarakat modern bergerak dengan efisiensi logika. Setiap orang Ditempatkan dalam peran, setiap peran menuntut kinerja, dan setiap kinerja harus terlihat. Pertanyaan tentang makna tidak masuk dalam laporan, tidak tercatat dalam grafik, dan tidak memberi kontribusi langsung pada hasil. Maka berpikir menjadi aktivitas yang tak produktif—sesuatu yang dapat ditunda tanpa konsekuensi yang tampak. Dalam situasi itu, manusia belajar hidup secara fungsional. Bangun tepat waktu, menjalankan tugas, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya keesokan harinya. Kehidupan berjalan sebagai rangkaian prosedur yang sah dan dapat dipertan...